Tahukah anda bahwa faktanya sejak keberadaan IGI di Maluku 2016 sebagai organisasi guru di bumi raja-raja ini sangat berpengaruh posisitf terhadap peningkatan mutu guru, khusus di bidang liteasi digital.
Lihat saja program program IGI Maluku dengan IGI di daerah kabupaten dan kota, mereka terus membuat hal-hal yang kita tidak pikirkan sebelumnya, tiba-tiba ada program baru dan terus saja membuat terobosan baru. Mereka ini bermaksud apa, dan untuk apa semua ini, bukankah kita guru ini sudah cukup nyaman ada di posisi sebagai guru ASN biasa dengan menikmati penghasilan dan upah saja, kenapa terus bergerak membuat sibuk semua guru lain? lagian ini bukan Jawa, ini Maluku, santai saja lah, jangan cari perhatian. jangan-jangan ada maksud politik atau ada yang boncengi untuk kepentingan sesuatu di depan sana?
Apa anda juga berfikir begitu?
Pertanyaan ini sering muncul ketika berdiskusi lepas dengan kawan-kawan di komunitas guru atau bahkan di kalangan aktivis guru, tapi bahasannya itu-itu juga, sejak IGI Maluku muncul di Maluku Medio April 2016. yang herannya hingga tahun 2020 ini pertanyaannya selalu sama, bahkan ada yang sangat miring, misalnya, sudahlah. anda itu cari apa, kan sudah ada organisasi guru, buat apa lagi ada IGI.
Menjawabnya cuma 1 sebanrnya, kalo sudah ada Jawa dan Sumatra, kenapa harus ada Maluku lagi?
saya sering jawan bahwa kalo ada TVRI kenapa harus ada SCTV TVOne dan Net TV dan lain-lain. lah kalo sudah ada aku kenapa ada kamu?..Kalo sudah ada dinas pendidikan kenapa harus ada LPMP ada balai diklat ada IGI ada organisasi lain ada MKKS ada MGMP ada forum Guru ada.....ada apa denganmu?
Sini Beta mo Bilang vor Ale...(nih saya kasi tau)
Pemda, Pemrov, bahkan Negara ini sekuat apapun dia tidak bisa kerja sendiri, demikian juga 'Ale'. biar banyak uang lai, biar banyak kepeng lai, seng akang kuat ale. Maka para pakar mencetuskan beberapa rumusan bahwa untuk hidup di zaman ini butuh kerja kolaborasi dengan semua pihak. termasuk mengurus kualitas guru harus bekerjasama dengan mereka-mereka yang bekerja serius mengawal komptensi guru. Ini bukan semata uang dan uang, ini pengabdian.
Maka keliru kalau niat bergabung di IGI akan kaya materi, tapi bisa mensucikan harta dengan berbagi ilmu yang setara dengan nilai materi. Mungkin kami-kami di IGI tidak punya materi berlebih, tapi jika butuh keilmuan masih bisa dibagi. Maka orang di IGI sebenarnya kaya-kaya, sampai orang seperti saya ini terlalu sibuk membangun kompetensi para guru lain, sehingga lupa membangun kompetensi diri sendiri, karena sibuk mengurus masa depan guru lain yang belum tentu juga balik modal menolong kita. itu pikiran materialistis bukan pengabdian. kalo berfikir begitu saya tidak di sini menuliskan catatan ini.
Kawan-kawan dekat saya pun heran, kenapa kamu sibuk ngurus orang lain, kamu sendiri tidak mengurus nasibmu?. jawabnya adalah saatnya, tapi belum sekarang. Saya harus tuntaskan apa yang saya sudah mulai, namanya juga hobi dan senang. Senang bisa merubah orang dari tidak paham kepada pemahaman yang lebih. itulah bahagianya.
oke, balik nang laptop...
Coba deh anda yang tertarik dengan data seberapa jauh kualitas guru di Maluku? bisa lacak di Internet kok, mudah. silahkan. kenapa demikian rendahnya?
Rendahnya kualitas guru di Maluku tentu dipengaruhi banyak faktor salah satunya adalah guru minim sentuhan pelatihan dan pendampingan. Pelatihan dan diklat selama ini hanya dipercayakan kepada Dinas Pendidikan atau LPMP juga balai diklat keagamaan khusus guru madrasah. forum-forum guru yang diharapkan untuk membina dan melatih guru seperti MGMP atau MKKS, termasuk organisasi guru lain, seperti hanya nyaman berjalan dengan dana baru bergerak. Namun keberadaan forum-forum ini hanya menjadi tempat berkumpulnya guru yang sudah nyaman dengan profesinya, dan tidak menjadi penggerak guru dan akhirnya stagnan.
Bukan di Maluku, saja, di semua daerah punya kecenderungan sama, begitu. dan karena butuh pendobrak dan penggeak maka saya memilih untuk turun langsung mengawal berbagai program yang dianggap gila ini, sebab ketika menerima mandat ketua IGI Maluku, banyak yang sudah mencibir bahwa, membangun organisasi besar itu butuh duit, butuh dana besar, butuh backing kuat, butuh dan butuh, tapi mereka tidak pernah tahu bahwa saya hanya butuh restu Ilahi dan dukungan keluarga.
Maka mulailah tim kecil IGI Maluku dijodohkan dengan orang-orang hebat yang terus memotivasi agar terus gerak dan tumbuh meski kecil, tak berhenti 'memprovokasi' guru bergerak ke luar dari kemelut kesehariannya yang tidak mau berubah. Lambat laun program ini membawa dampak besar, beberapa guru mulai meyakini bahwa IGI membawa misi besar untuk kemajuan profesi yang konsisten, apalagi sharing keilmuan di IGI cuku bebas memebrikan tempat ke siapa saja untuk tampil dan berbagi, bahkan lintas komunitas, tidak ada atas dan bawahan tidak ada pejabat dan kaum jelata, di IGI yang telaten dan rajin akan lulus sebagai pelatih guru yang tersertifikasi melatih guru lainnya sebagai pelatih guru.
Muncullah lembaga-lembaga kemitraan yang terus berkolaborasi dengan IGI Maluku, memang campur tangan kawan-kawan lain yang terus menerus membesarkan sehingga sampai akhir ini tidak terasa, sudah 4 tahun IGI Maluku berkiprah. Ada nampak sedikit harapan dari para guru agar IGI konsisten dengan perjuangannya menggerakkan guru dan menjadi motor penggerak guru ke depan dan jangan berbelok arah ke politik misalnya, dukung mendukung, dan memang itulah misinya fokus pada program peningkatan mutu guru.
Silih bergantinya pengurus IGI di kabupaten dan kota yang terus bergantian bagi saya adalah sirkulasi untuk mengganti energi baru agar lebih kencang berproses, karena IGI dengan perjuangan yang lambat akan layu dan tidak bergerak. Sehingga di IGI akan ada resufle di atas 6 bulan jika kepengerusan tidak bergerak dan beraksi dalam kegiatan, inilah yang terus memompa semangat pengurusnya agar selalau siap dan kuat mental spiritual, termasuk kaut menggerakkan.
Saya kira ini contoh organisasi yang mandiri dan tidak pernah mengandalkan talangan dana dan anggaran tetap dari pemerinah daerah dan pusat. Karena IGI masuk kategori organisasi nirlaba, maka siapa saja yang mau berdonasi, tentu boleh. Karena beberapa porogram IGI juga memberi ruang untuk berkolborasi dengan berbagai pola kemitraan baik individu maupun lembaga atau kelompok untuk bekerjasama.
Beberapa program utama IGI dalam kanal pelatihan lokal mampu menarik perhatian para guru utuk terus berdatangan jika digelar disetiap kegiatan. Ini memberi sinyal bagus bahwa program pendampingan mutu guru IGI di Maluku memang benar menarik perhatian dan menjadi kebutuhan guru saat ini. Apalagi IGI selalu giat mendatangi semua daerah kabupaten kota secara rutin, karena belum semua guru mau bergabung menjadi member atau anggota IGI, tapi saya yakin kesiapan igi membentuk masa depan guru dan siswa yang lebih baik akan terjawab di tahun-tahun mendatang.
Catatan Harian
IGI Maluku
3 Komentar
membangkitkan semangat untuk terus beraktivitas dalam peningkatan mutu dan kualitas guru di Maluku
BalasHapusMksh mas
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus