
Dunia pembelajaran di negara kita mengalami perubahan secara terpaksa ketika wabah korona datang melanda Nusantara
Alternatif pembelajaran dalam jaringan atau daring adalah salah satu pilihan alternatif lain untuk mengalihkan pembelajaran tatap muka ke ruang maya.
Untuk sampai ke tingkat Ini sebenarnya seharusnya sudah dilakukan sejak lama bahkan sejak ada yang namanya internet hadir di muka bumi Nusantara. Minimal sejak ditemukan jaringan 4G seharusnya sekolah-sekolah itu mampu mengaplikasikannya dalam dunia pembelajaran,
Tapi yang terjadi bahkan sekolah-sekolah model pun tidak mampu menggerakkan guru-gurunya terbiasa dengan pembelajaran daring, atau bisa jadi guru mereka tidak mau belajar, atau kepala sekolah tidak mau memberikan waktu luang atau waktu khusus bagi para guru belajar secara mandiri Bagaimana memanfaatkan kecanggihan teknologi masa kini.
Apa memang harus dipaksa keadaan isolasi dan karantina mandiri lantaran wabah covid19, atau harus sampai ada ancaman karena wabah korona yang melanda seluruh negeri baru semua Gagap belajar teknologi?
tapi tak apalah daripada terlambat mending belajar sekarang.
tapi tak apalah daripada terlambat mending belajar sekarang.
Pertanyaan publik selama ini Kemdikbud menggelontorkan dana segitu besar untuk pembelajaran daring lewat portal pustekkom yang berganti nama menjadi pusdatin dengan komunitas rumah belajar pun tidak mampu menggerakkan guru-guru ini belajar teknologi terbarukan dalam dunia pendidikan.
Okelah Rumah Belajar adalah kesempatan dan kekhususan tertentu Kenapa guru-guru ini tidak dimotivasi tidak diberi peluang untuk belajar mandiri lewat komunitas-komunitas guru atau organisasi guru yang fokus belajar tentang bagaimana menaikkan kualitas pembelajaran mereka di era teknologi?
Kita tahu Ada KKG, MGMP, komunitas belajar dan FGMP, bahkan organisasi profesi guru. Saya tidak dengar organisasi guru yang besar di negeri ini mau mendampingi atau memberi jalan kepada gurunya harus apa dan bagaimana mengadapi siswa di masa-masa kritis ini. Yang ada adalah sepucuk surat himbauan harus ini, pakai ini dan itu, tapi cara dan model bagaimana bingung gurunya, lebih bingung lagi orang tua.
Padahal mau dibilang fasilitas di sekolah-sekolah itu sudah terhubung dengan internet dan siap digunakan karena Percuma saja membayar iuran internet tetapi jarang dimanfaatkan mendukung pembelajaran . Bahkan untuk membuat portal layanan informasi website yang menampilkan profil sekolah pun kadang tidak mau dibuat, padahal biayanya tidak seberapa alokasinya.
Harusnya sekolah-sekolah itu memang diaudit untuk apa dana peningkatan mutu guru yang selama ini masuk menjadi item dana BOS kalau tidak dimanfaatkan untuk program peningkatan mutu guru khususnya peningkatan mutu literasi digital?
Apakah harus menunggu sampai Corona datang baru mau belajar? Apakah harus menunggu sampai korban berjatuhan dulu baru bisa belajar secara daring? Bapak ibu guru dibayar cukup mahal dengan gaji dan tunjangan profesi untuk belajar meningkatkan mutu utamanya meningkatkan kemampuan berinteraksi di dunia maya, bukan anggaran sekolah saja, tunjangan profesi itulah gunanya tingkatkan mutu.
Beberapa kasus yang kami temui hal-hal yang seperti ini malah dikerjakan operator sekolah atau bayaran pihak ketiga tanpa ditangani langsung, mungkin iya pada hal-hal yang terlampau teknis, tetapi pada masalah yang utama semisal mampu mengelola surel, manajemen file, dan membuat presentasi slide tidak bisa padahal ini hal utama guru merdeka di zaman ini. Merdeka belajar katanya.
Harusnya hal yang utama ini ditangani secara mandiri bapak ibu. Betul tidak semua guru seperti ini, yg tidak bisa di tahap ini para pengajar kita yang selama ini cuek dengan perubahan zaman, padahal di tangan mereka menggenggam smartphone setiap hari. Tunjangan profesi telat ngamuknya minta ampun setelah cair tak satupun dipakai untuk tingkatkan kompetensi.
Pak kami tidak seperti itu dong, tapi faktanya secara umum diungkapkan sebuah survey bahwa pemanfaatan tunjangan profesi tidak serta merta menaikan kualitas profesi. Hanya 35 persen digunakan untk menunjang peningkatan kompetensi guru, sisanya digunakan untk kebutuhan sehari-hari, rumah, kendaraan, wisata traveling perabotan rumah tangga dan beli kendaraan lagi.
Saya memang tidak bersyukur ada Corona sehingga para guru baru mau berubah tapi paling tidak dengan kejadian isolasi diri ini adalah sebuah kesempatan khusus dan langka bagi para pengajar untk kembali belajar sebagai guru yang memiliki kompetensi profesional saja, tetapi mampu menguasai kompetensi literasi digital, selain kompetensi numerik, dan karakter. Tantangan di masa depan selain menguasai literasi harus mampu berkolaborasi, kreatif inovatif, dan berfikir kritis.
Tapi, adalah covid19 yang yang menjadikan kita berhenti sejenak, dari aktivitas keseharian, dari tatap muka langsung ke tatap muka secara daring, sebagaimana instruksi kemendikbud mas mentri, saat ini juga sekolah harus bisa memobilisasi guru untuk sedapatmungkin menghandel kelasya di ruang maya.
Sebisa mungkin dipaksa, karena dipaksa itu akan terbiasa, dan jika terbiasa terbawa-bawa,
dan jika tebawa-bawa akan jadi budaya yang melembaga.
dan jika tebawa-bawa akan jadi budaya yang melembaga.
Benar tidak semua guru punya fasilitas dan akses internet jika wabah ini hingga pedalaman dan pelosok. Gunakan cara terbaik untuk tetap menghandel siswa meski hanya sebatas model pembelajaran portofolio, tugas proyek dan lainnya sebagai tugas mandiri jika itu terpaksa.
Siapa yang akan mengontrol aktivitas anda mendidik siswa di ruang maya? Apakah pengawas, atau kepala dinas? Atau orang tua? Tentu tidak yang mengontrol Anda Ya anda sendiri dan Tuhan yang maha kuasa.
Karna terpaksa itulah maka saatnya pengabdian anda diuji. Saya jamin tidak akan ada yang usil lantaran anda mengajar rutin atau tidak mengajar sama sekali. Semua orang akan sibuk dengan tanggap darurat wabah ini.
Ed. revisi dari tulisan menemubaling, Senin 24 maret 2020
Ketika ODP covid19 ditetapkan 100 oleh pemprov Maluku.
Pak Ode
0 Komentar