Covid-19 Menjadikan Guru IGI Lebih Berkualitas

Gambar mungkin berisi: 13 orang, termasuk Fitri Djibran, Hajah Noor Baytie, Pakode Abdurrachman, Arsita Talaohu Ca'anazel, Sam Sangaji, dan Nurdin Achmad


"Kita wajib bersyukur dengan adanya covid-19 di lingkungan pendidikan kita, siswa, orang tua dan guru, sadar dan makin paham bahwa belajar bisa di mana saja dan kapan saja, dan terlebih lagi orang tua makin sadar bahwa tugas guru itu berat, karena mendidik anaknya sendiri di rumah sudah sangat berat dan kerepotan, bagaimana dengan profesi guru yang mendidik anak orang lain, Orang tua pun makin sadar bahwa kunci keberhasilan siswa adalah komunikasi antara orang tua, siswa dan guru, karena dengan komunikasi intens ini bisa melejitkan pengetahuan siswa".

Dahsyatnya dengan adanya covid19 ini para guru mampu menciptakan berbagai inovasi dan kreasi untuk menjadi solusi pembelajaran jarak jauh dengan siswa, utamanya para guru IGI yang memang sejak sebelum covid-19 sudah sejak lama mempersiapkan dan membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan kompetensi berbasis literasi digital. Sehingga di saat masa pandemi para guru pelatih IGI bertebaran memberikan pelatihan dan training jarak jauh kepada sesama guru untuk berkreasi mengajukan berbagai model, metode, dan media daring yang di anggap berpeluang diterapkan pada kondisi lingkungan guru masing-masing.  

Di samping itu, ketaatan hidup kita makin meningkat, "Khusus pada perilaku hidup bersih dan sehat yang biasanya mengabaikan cuci tangan, dan sanitasi, sekarang dengan adanya covid19 wajib cuci tangan, perilaku bersih diri para guru, siswa dan orang tua, semakin lebih ditingkatkan kualitasnya" seperti itu petikan statemen Dirjen GTK pak Hamid Muhammad, sebagai penutup seminar Daring yang digelar IGI Maluku, 9 Mei 2020.

Kendala penerapan perangkat teknologi pembelajaran di awal-awal penerapan masa 'belajar dari rumah' secara daring sebagai evaluasi awal, yakni kurangnya kolaborasi dinas pendidikan di seluruh kabupaten dan kota akan pemanfaatan teknologi berbasis digital yang selama beberapa tahun terakhir ini digalakkan, dengan kampanye gerakan literasi  termasuk literasi digital sebelum masa pandemi. Karena dari pemantauan berbgai program yang sudah berjalan hanya sebagai program tidak melahirkan produk, dan jika sejak dari awal mereka bisa berkolaborasi dengan guru penggerak yang ada di IGI yang gencar setiap pekan melakukan berbagai pelatihan di daerah,  diproyeksikan tidak akan mengeluarkan porsi anggaran berlebih atau bahkan tidak tergantung anggaran. 

Sebut saja, kehadiran IGI Maluku yang saat ini aktif pada 8 kabupaten kota (Ambon, Tual, SBB, Malteng, SBT, Buru, Buru Selatan, Maluku Tenggara) dengan berbagai inovasi dan kreativitas yang bisa menggerakkan guru dengan biaya minim atau bahkan tanpa biaya, ketika mengajukan berbagai program pelatihan guru baik daring dan luring masih saja banyak yang apatis, bahkan banyak yang menghalang-halangi dengan alasan organisasi guru tandingan, ini tentu alasan klise dan mengada-ada karena saat ini organisasi guru dalam UU Guru dan Dosen tidak menyebut satu organisasi tertentu saja.

Apalagi IGI sebagai organisasi guru hanya fokus pada program peningkatan mutu guru, diklat dan pelatihan, daring maupun luring, memfasilitasi produktivitas guru dalam berkarya dan berkarir, dan ini harusnya dibaca oleh pemda dalam hal ini akan meringankan program-programnya.  

Bicara fakta misalnya di saat awal masa pandemi IGI Maluku hadir dengan tayangan channel TV Digital IGI Maluku yang live streaming 23 Kali melalui Seminar Dalam Jaringan (SDJ) sebelum ramadhan, dan gratis, tidak banyak guru yang terlibat dan mau melibatkan diri. 

Dan itu tidak ditangkap dinas pendidikan sebagai jembatan dan solusi berkolaborasi, padahal mereka sadar sebesar apapun anggaran pendidikan yang terparkir di dinas pendidikan tanpa ada kolaborasi komunitas penggerak, semuanya program peningkatan mutu guru akan tidak maksimal. Paling tidak kehadiran IGI akan meringankan program dan kegiatan dinas pendidkan membina dan melatih para guru, bukan cuma mengawasi dengan regulasi.   

Bahkan jauh sebelum ini, ketika IGI Maluku tour ke beberapa kabupaten kota dengan melaksanakan berbagai pelatihan tatap muka langsung, tidak banyak yang menangkap peluang dan momen ini sebagai momen untuk meningkatkan kualitas profesi guru. Padahal mereka tau IGI Maluku tidak pernah meminta dan menyebut berapa anggaran pelatihan, adapun tagihan panitia saat pelatihan guru itu sebenarnya hanya cukup membayar biaya makan minum peserta dan akomodasi pelaksanaan workshop/pelatihan.

Kami salut ada beberapa perhatian dan upaya kemitraan dari beberapa kepala dinas pendidikan yang energik yang pikirannya maju dan mau berkolaborasi dengan IGI Maluku dalam berbagai program-program peningkatan mutu guru dan terbukti berhasil, karena saat ini terjadi perubahan paradigma bagi para guru sebelum dilatih IGI dan setelah dilatih IGI Maluku, karena IGI organisasi guru yang tahu kebutuhan dan kendala guru, maka IGI sangat paham apa dan bagaimana guru dipersiapkan kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apapun.    

Selain diakui bahwa tidak semua guru dan siswa mampu mengoptimalkan pembelajaran digital, bukan berarti tidak memiliki tetapi tidak pernah dilatih atau tidak mengikuti mengikuti pelatihan atau tidak mau berlatih bagaimana mendisain, mengembangkan metode, model, media pembelajaran digital. 

Jika tidak dilatih, para guru kita ini hanya akan tampil dalam kelas pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan video konferensi (Vicon) daring, misalnya hanya untuk bersoal jawab, merangkum, menyalin buku dan lain sebagainya, padahal pembelajaran virtual bukan hanya pada keterampilan menyelesaikan soal semata, tapi pada pendidikan kecakapan hidup, produktivitas dan bagaimana pengetahuan hidup mandiri itu diterapkan. Contoh kecil misalnya bagaimana mendisain produk pembelajaran tatap muka dengan mengarahkan siswa pada membantu orang tua, berkolaborasi, meningkatkan kecakapan berbahasa, kecakapan literasi, numerasi dan karakter dengan berbagai model dan pembelajaran yang ditawarkan IGI Maluku dengan segudang inovasinya.

Mari kita lihat sejauh mana tulisan ini menggugah mereka atau tidak?
  
Suksesi Seminar Nasional IGI Maluku

Seminar yang diselenggarakan IGI Maluku ini terselenggara atas kolaborasi tim Program Pengembangan Kompetensi Guru (P2KG) IGI Maluku yang dibentuk khusus untuk fokus pada berbagai program-program diklat daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan).

Hadir sebagai peserta 222 partisipan secara live di zoom meeting room, dan ditonton live juga melalui media streaming youtube saat ini sudah lebih dari 500 kali hingga hari ini, semua peserta terdata dan terwakili dari 26 Provinsi se Indonesia yang ikut belajar bersama di IGI Maaluku. Hal ini juga pertanda baik bahwa guru-guru Maluku tidak kalah dengan para guru di kota-kota besar lainnya di Indonesia.   

IGI Maluku berterima kasih kepada Dirjen PAUD dan Dikdasmen pak Hamid Muhammad, Ph.D, dan kanda Ketua Umum PP IGI Pusat Muhammad Ramli Rahim (MRR) dan juga pak Achli M. Jasim Sebagai ketua LPMP yang telah meluangkan waktu dan kesempatan untuk hadir menjelaskan program-program yang nantinya berpeluang berkolaborasi dengan IGI Maluku dalam berbagai kesempatan.

terima kasih
Ambon 10 Mei 2020


Ode Abdurrachman
IGI Maluku 

   


0 Komentar