Ini Repost saya sejak tanggal 28 Maret 2020, di saat ide untuk memulai tahun ajaran baru di januari 2021, dianggap aneh, tapi ternyata kementrian Pendidikan 'diam-diam' telah menyiapkan skenario terburuk jika tahun ajaran baru dimulai Januari 2021.
Saya pribadi mempredikasi Covid19 ini tidak akan hilang selama setahun ke depan, belajar dari kota Wuhan sejak Desember 2019 hingga 6 bulan ini tidak terjadi perbaikan dan perubahan pada aktivitas masyarakat dan ada tanda-tanda meredanya covid19, bahkan kini muncul varian virus yang baru.
Beruntung bagi sekolah dan guru bahwa sejak ada payung hukum baru tentang pengelolaan dana operasional sekolah (BOS) yang diperuntukkan untuk membackup aktivitas pelajaran selama masa covid19, adalah peluang untuk mempersiapkan kelas masa, dengan Learning Managemen System (LMS), inipun hanya pada sekolah-sekolah yang sampai saat ini bisa mengakses layanan internet, karena prakiraan saya, sekolah dan proses pembelajaran seterusnya dalam setahun ke depan akan berjalan dari rumah, dan meski sudah selesai masa wabah corona, LMS ini akan tetap digunakan mendukung aktivitas pembelajaran di sekolah.
Bagi sekolah yang terkendala dengan akses internet khususnya pada sekolah di daerah 3T, bisa mengawal pembelajarannya dengan siaran radio sekolah, dengan membuat pengadaan radio pemancar mini yang bisa menjangkau 5 Km dari area sekolah, dan sebenarnya tidak mahal, karena masih lebih mahal harga unit smartphone kelas menengah, dan biayanya bisa dibackup dari dana BOS. kenapa tidak? sudah berjalan di beberapa sekolah 3T di Maluku Utara, laporan dirjen dalam seminar beberapa waktu lalu. Cuma mau tidak ?!.
Ode Abdurrachman
Oke, Pindah Tahun ajaran baru apakah menyelesaikan masalah? tidak juga, sebab jika benar-benar terjadi, skenario yang harus disiapkan bagaimana memprogramkan pelajaran matrikulasi, atau remedial atau pelajaran tambahan, kepada mereka yang 'terpaksa' dinaikan kelasnya pada pendidikan dasar (SD dan SMP) juga SMA (sederajat). Tentu bukan masalah ini semata, akan ada banyak masalah yang harus sudah disiapkan sejak saat ini, saya menyentil pembaca saja bahwa sudah harus disiapkan...
Bagi mereka yang diumumkan kelulusannya terutama siswa SD, yang tidak pernah mendapatkan pelajaran di tiga bulan terakhir selama masa pandemi, sudah harus disiapkan program matrikulasi selama bahasan materi yang belum dipelajarinya, sehingga ketika masuk di SMP/Mts tidak 'kaget' dengan materi baru di SMP.
okelah secara lunak, kementrian melalui dirjen PAUD dan Dikdasmen, menyampaikan bahwa pembelajaran itu tidak perlu dipaksakan, kembali ke pembelajaran yang relevan dengan kondisi saat ini, karena dipredikasi tidak lama, dan juli 2020 sudah selesai wabah ini. tapi jika pandemi covid19 ini lebih dari satu semester, bayangkan apa yang terjadi?
Dan akan terjadi perubahan besar bagi kelas bawah dan kelas atas di sekolah dasar dan SMP tentang skenario kurikulum dan program pembelajaran. Harusnya saat ini dinas pendidikan di daerah dan kota kabupaten, sudah sibuk mempersiapkan diri dengan berbagai program alternatif persiapan matrikulasi dan pengayaan di kelas berikutnya. artinya guru harus dipersiapkan untuk pelaksanaan skenario ekstra atau menyiapkan waktu luang mengatasi ini di masa depan, jika tidak maka ada lompatan pengetahuan dan beban tersendiri bagi guru di masa depan.
okelah secara lunak, kementrian melalui dirjen PAUD dan Dikdasmen, menyampaikan bahwa pembelajaran itu tidak perlu dipaksakan, kembali ke pembelajaran yang relevan dengan kondisi saat ini, karena dipredikasi tidak lama, dan juli 2020 sudah selesai wabah ini. tapi jika pandemi covid19 ini lebih dari satu semester, bayangkan apa yang terjadi?
Dan akan terjadi perubahan besar bagi kelas bawah dan kelas atas di sekolah dasar dan SMP tentang skenario kurikulum dan program pembelajaran. Harusnya saat ini dinas pendidikan di daerah dan kota kabupaten, sudah sibuk mempersiapkan diri dengan berbagai program alternatif persiapan matrikulasi dan pengayaan di kelas berikutnya. artinya guru harus dipersiapkan untuk pelaksanaan skenario ekstra atau menyiapkan waktu luang mengatasi ini di masa depan, jika tidak maka ada lompatan pengetahuan dan beban tersendiri bagi guru di masa depan.
Saya pribadi mempredikasi Covid19 ini tidak akan hilang selama setahun ke depan, belajar dari kota Wuhan sejak Desember 2019 hingga 6 bulan ini tidak terjadi perbaikan dan perubahan pada aktivitas masyarakat dan ada tanda-tanda meredanya covid19, bahkan kini muncul varian virus yang baru.
Beruntung bagi sekolah dan guru bahwa sejak ada payung hukum baru tentang pengelolaan dana operasional sekolah (BOS) yang diperuntukkan untuk membackup aktivitas pelajaran selama masa covid19, adalah peluang untuk mempersiapkan kelas masa, dengan Learning Managemen System (LMS), inipun hanya pada sekolah-sekolah yang sampai saat ini bisa mengakses layanan internet, karena prakiraan saya, sekolah dan proses pembelajaran seterusnya dalam setahun ke depan akan berjalan dari rumah, dan meski sudah selesai masa wabah corona, LMS ini akan tetap digunakan mendukung aktivitas pembelajaran di sekolah.
Bagi sekolah yang terkendala dengan akses internet khususnya pada sekolah di daerah 3T, bisa mengawal pembelajarannya dengan siaran radio sekolah, dengan membuat pengadaan radio pemancar mini yang bisa menjangkau 5 Km dari area sekolah, dan sebenarnya tidak mahal, karena masih lebih mahal harga unit smartphone kelas menengah, dan biayanya bisa dibackup dari dana BOS. kenapa tidak? sudah berjalan di beberapa sekolah 3T di Maluku Utara, laporan dirjen dalam seminar beberapa waktu lalu. Cuma mau tidak ?!.
Solusinya Sekolah Digital, sekolah tanpa kertas (paperless school)
Jika pemerintah pusat atau daerah tidak memulainya, atau tidak ada sekolah yang mampu memulainya, IGI Maluku akan memulainya, dengan beberapa sekolah binaan IGI Maluku, dan mulai tahun ini bersama dengan para guru penggerak dan para pelatih Ikatan Guru Indonesia (IGI) akan menyiapkan kelas virtual dengan menghadirkan alternatif sekolah di awan, secara masif berbasis digital dan dikendalikan oleh masing-masing sekolah.
Peran guru tidak akan diganti oleh teknologi, tetapi guru akan hadir langsung memantau perkembangan siswa dengan teknologi, teknologi digital dan analog. Kelas maya ini akan mirip dengan kelas nyata yang akan menampung siswa dengan gurunya dan kurkulum mitigasi yang disesuaikan dengan bencana covid19, sehingga terjadwal seperti biasa dan siswa dan guru bisa berinteraksi maksimal dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran virtual ini akan terus berlangsung dengan model blended learning (memabaurkan metode virtual dan tatap muka) antara guru dan siswa hingga sekolah dinyatakan siap bisa membuka sekolah secara normal.
Untuk sampai ke tahap ini tentu butuh pelatihan pagi guru bagaimana mengelola kelas virtual, dan penyiapan infrastruktur yang maksimal dari pemerintah dan pemda, karena terbukti meski sudah berjalan kelas digital terbukti guru yang terlibat di dalam proses ini kurang dari separoh, artinya banyak guru yang mau dan memanfaatkan kelas virtual secara maksimal untuk mencerdaskan anak bangsa, apalagi ini bagian dari tugas dan tanggungjawab mereka.
Kendala selama penerapan proses kelas virtual ini pasti ada, baik dari akses, jaringan, ketersediaan listrik, perangkat dan akses ke teknologi yang bisa digunakan, tinggal pemda dan pempus memperbaiki seiring berjalannya waktu.
Dengan ruang kelas virtual ini guru dan siswa akan terus belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan gurunya.
Ambon, 18 Mei 2020
Jika pemerintah pusat atau daerah tidak memulainya, atau tidak ada sekolah yang mampu memulainya, IGI Maluku akan memulainya, dengan beberapa sekolah binaan IGI Maluku, dan mulai tahun ini bersama dengan para guru penggerak dan para pelatih Ikatan Guru Indonesia (IGI) akan menyiapkan kelas virtual dengan menghadirkan alternatif sekolah di awan, secara masif berbasis digital dan dikendalikan oleh masing-masing sekolah.
Peran guru tidak akan diganti oleh teknologi, tetapi guru akan hadir langsung memantau perkembangan siswa dengan teknologi, teknologi digital dan analog. Kelas maya ini akan mirip dengan kelas nyata yang akan menampung siswa dengan gurunya dan kurkulum mitigasi yang disesuaikan dengan bencana covid19, sehingga terjadwal seperti biasa dan siswa dan guru bisa berinteraksi maksimal dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran virtual ini akan terus berlangsung dengan model blended learning (memabaurkan metode virtual dan tatap muka) antara guru dan siswa hingga sekolah dinyatakan siap bisa membuka sekolah secara normal.
Untuk sampai ke tahap ini tentu butuh pelatihan pagi guru bagaimana mengelola kelas virtual, dan penyiapan infrastruktur yang maksimal dari pemerintah dan pemda, karena terbukti meski sudah berjalan kelas digital terbukti guru yang terlibat di dalam proses ini kurang dari separoh, artinya banyak guru yang mau dan memanfaatkan kelas virtual secara maksimal untuk mencerdaskan anak bangsa, apalagi ini bagian dari tugas dan tanggungjawab mereka.
Kendala selama penerapan proses kelas virtual ini pasti ada, baik dari akses, jaringan, ketersediaan listrik, perangkat dan akses ke teknologi yang bisa digunakan, tinggal pemda dan pempus memperbaiki seiring berjalannya waktu.
Dengan ruang kelas virtual ini guru dan siswa akan terus belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan gurunya.
0 Komentar