Mungkin terlalu lebay judul itu untuk sebuah tulisan opini media, di tengah kekalutan psikologi warga Maluku khusus Ambon di tengah suasana hadapi isu wabah Corona yang diprediksi bakal datang.
Tapi karena kita tidak harus berhenti pada situasi stagnan sambil menanti nasib dari langit untuk merubah keadaan, maka aktivitas di akhir pekan saya yang terjadwal harus tetap berlanjut. Ya, benar bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib orang, sebelum orang itu merubah nasibnya terlebih dahulu.
******
Sesering mungkin, Setiap akhir pekan mendatangi kota Namlea, pulau Buru tempat saya dan tim kecil bahu membahu berkolaborasi membina kelompok kecil pengrajin minyak kayu putih.
Tim kecil saya ini tersebar di beberapa desa, mereka terdiri dari mahasiswa, para petani, pengepul dan tokoh masyarakat yang banyak berdiskusi tentang potensi pengelolaan minyak kayu putih di pulau Buru.
Tepatnya di kantong-kantong pengrajin minyak kayu putih yang telah mereka kelola selama puluhan tahun secara turun temurun,
Awalnya saya tertarik menggeluti bidang ini sejak menjadi mahasiswa, karena beberapa kawan kuliah selalu menanyakan oleh-oleh khas Maluku, pilihannya ke buah tangan minyak kayu putih yang dikemas dalam botol kecil ukuran 80ml.
Seiring coba-coba membuat blogsite di tahun 2010, untuk pemasaran sekedar oleh-oleh khas Maluku, dan coba-coba nekat untuk membuka permintaan dalam jumlah besar, khusus industri. Berbagai permintaan melalui penawaran langsung dari dalam dan luar negeri terus berdatangan melalui mail, namun apa daya, saya tidak di lokasi, saat itu masih studi pascasarjana di Surabaya.
2013 ketika berkenalan dengan famili dekat, yang mukim tetap di pulau Buru Namlea, barulah terlintas ide untuk melanjutkan ide itu dengan menjadi perantara untuk memfasilitasi penjualan minyak kayuputih melalui internet.
Untuk pasar oleh-oleh lokal sebenarnya sudah banyak suplier atau toko oleh-oleh yang menyediakan semisal untuk sekedar buah tangan pegunjung, namun di kelas permintaan industri untuk pembelian dalam jumlah besar belum banyak yang menyediakan dan tidak ada informasi jelas tentang pengelolannya, karena selama ini pembelian dalam jumlah besar menurut masyarakat lokal di Ambon dan Namlea pulau Buru, hanya dikuasai oleh pihak tertentu saja termasuk yang bermodal besar.
Dengan perantara keluarga dekat inilah kami banyak berdiskusi dan banyak tau lebih detil tentang seluk beluk pengelolaan minyak kayu putih dari hulu hingga hilir, berbagai problem pemasaran, masalah pendanaan, dan kebutuhan masyarakat ekonomi lemah yang sudah terikat kontrak sewa atau terjerat hutang dari tengkulak, kebanyakan para petani pengrajin kayu putih sudah terlanjur berhutang sehingga mereka mau tidak mau tunduk di bawah aturan para tengkulak, meski hasilnya bagus namun tetap dijual dengan harga rendah kepada peminjam dana, kejadian ini sudah berlangsung puluhan tahun sehingga membudaya dan menjadi sesuatu yang sudah lazim terjadi.
*****
2015, blog yang saya buat kedatangan pembeli serius, dan mau datang langsung ke Ambon, setelah janjian ketemu kamipun sepakat dengan beberapa point hingga siap datang langsung ke penyulingan kayu putih di Namlea.
Namlea bukan daerah baru bagi saya, sejak kantor kami membuka program perkuliahan jarak jauh saya sering bertandang di kota penghasil minyak kayu putih ini.
Saya tidak sendiri, ada beberapa yang membantu, sehingga saya menyebutnya tim. Tim kecil kami bergerak dari kampung-ke kampung dari berbagai pertemanan dengan para guru dan mahasiswa sebelumnya, kami berhasil mengumpulkan 700kg minyak kayu putih dalam 7 hari, rata-rata harga per kilogramnya saat itu di tingkat pengepul antara 200 sd 220 per Kilogram.
Dari pembelian perdana ini saya bertindak sebagai perantara saja, yang memfasilitasi pembeli. Buyers saya kemudian deal melakukan pembelian hampir 1 ton minyak kayuputih dari salah satu desa di dekat kota Namlea, dari pengepul terbesar di desa itu. (Nama desa tidak disebut)
Sayangnya masalah pun datang, ketika barang sampai di tempat tujuan, ternyata penjualnya dari tempat asal di desa Namlea itu, telah terkontaminasi alias sengaja dicampur dengan bahan tertentu sehingga pembeli terakhir kami batal membayar, sementara barang sudah terkirim ke Eropa di tempat tujuan yakni Frankfurt, Jerman.
Bagaimana mungkin kami bisa mengambilnya kembali setelah ditolak, sementara ongkosnya saja antara Jerman Indoneaia sudah minus jika dikembalikan. Pembeli saya tentu marah besar, karena merasa ditipu dengan kasus ini. Jelas saya sebagai perantara juga bertanggungjawab atas kejadian ini, perusahan yang kami gunakan diblacklist masuk dalam daftar hitam pengekspor barang tidak original. Saya dan pembeli harus menanggung rugi tentu jalan terakhir adalah harus kembali dimurnikan lagi, tentu dengan biaya tambahan.
Kelanjutannya saya pun bolak balik Namlea untuk mengkonfirmasi kasus ini pada penjual asalnya, sayangnya mereka berkilah dan tidak mau bertanggungjawab seakan lepas tangan bahkan menyalahkan kenapa barangnya sudah dibawa dan tidak dicek sebelum dikeluarkan.
Padahal nyata-nyata kita mengecek barang yang diberikan yang bagus, namun saat dituang dan dipindahkan ke wadah drum adalah yang tidak bagus atau sengaja barang yang sudah tercampur dengan bahan lain.
Setelah putar otak dan berhasil menemukan metode sederhana memisahkan minyak kayuputih original dan bahan pencampurnya, saya datangi penjual pengepul dan alhasil dia terbelalak bahwa akal-akalan dia mencampur bisa dibuktikan dengan metode sederhana. Alhasil dia bersedia mengganti meski tidak mengakui langsung dan menyalahkan anak buahnya yang sembrono.
Kasus ini menyebar ke beberapa desa tetangga dan menjadi pelajaran berharga bahwa hingga kini para pengepul dan penjual MKP akan waspada menjual produknya ke tim kami, karena saat ini bisa membuktikan mana bahan Ori dan mana imitasi.
Meski tidak rutin mengirim produk MKP dari pulau Buru, saat ini saya dan tim bisa memfasilitasi pengrajin kayuputih lokal dengan membawa 1 hingga 1.5 Ton Kayuputih lokal keluar pulau Buru, dengan jalur Resmi. Tentu belum seberapa jumlanya dengan beberapa pengusaha lain yang sudah bertahun-tahun menggeluti usaha ini.
*****
Pelajaran berharganya adalah pengalaman saja tidak cukup untuk menggeluti usaha atau bisnis apapun, tapi dengan ilmu dan terus belajar. Termasuk dengan terus mencoba. Resiko atau kerugian sudah pasti membayangi dalam bisnis untung rugi. Jika ada untung pasti ada rugi.
Potensi pulau Buru sebagai pulau penghasil emas bagi mereka yang mau belajar, jangankan emas yang dipendam, Emas hijau dipermukaan saja masih belum terkelola dengan baik. Butuh sentuhan kaum millineal agar terkoneksi lebih luas untuk memfasilitasi para pengrajin MKP termasuk sarjana-sarjana lokal yang mengabaikan potensi ini.
*****
Bagaimana tentang dana?
Itu yang sering dikeluhkan dalam berbagai diskusi di mana saja. Jawabnya. Negara ini dibangun tanpa harus kaya dulu. Duit alias dana memang segala-galanya, tapi tanpa dana kita masih bisa jalankan usaha jika kita kuasai ilmu dan metodenya...
Di lain kesempatan akan kita bahas. Kisi-kisinya adalah bagaimana tokopedia dan bukalapak atau shopee mampu menjual gambar barang tanpa harus memiliki barang tetapi pembeli mau menyetorkan dananya ke mreka?
Nantikan tips dan triknya...
Pak Ode
Pegiat Maluku Kaya, Kampung Digital

0 Komentar