Saya berharap IGI akan ada di garda terdepn yang akan melatih Guru menuju era baru pembelajaran. IGI Maluku dengan kekuatan personil 1300 guru IGI dan 500 guru pelatih Maluku, yang tersebar hampir di 11 kabupaten Kota Maluku sangat terlatih untuk bergerak dalam mengelola berbagai kegiatan bidang peningkatan mutu profesi.
Kami telah mengerjakan yang tidak dikerjakan ormas dan organisasi guru lain. Bergerak tanpa APBD dan APBN secara mandiri, dan lihatlah progres pelatihan kami pada laman pencarian google dengan ratusan karya dan produk guru yang siap diimbaskan kepada para guru dan siswa.
Meski sebenarnya Kemendikbud sangat terlambat mencetuskan ide guru penggerak dengan pelatih dari guru sendiri yang berkecimpung dalam dunia guru. Tak apalah terlambat daripada tidak sama sekali.
Karena 2 tahun lalu IGI telah mentransfer guru pelatih ke 400 kab kota sebagai guru penggerak, kecuali sebagian Papua dan sebagian Maluku, karna geografis wilayah dengan dana mandiri.
IGI bergerak di tengah hiruk pikuk dan atmosfir pilkada, caleg dan calkada. Hingga dinilai mainan siapa dan dibelakangnya ada siapa. Hehehe.
Hingga beberapa kabupaten yang kami singgahi untuk melatih guru (tidak kami sebut) menyebut kami IGI seakan-akan mobilisasi guru tandingan berbasis politik.
Sekali lagi guru IGI sudah puas dengan status mayoritas ASN/PNS dan tidak akan berpolitik praktis dan akan ada di jalur khusus restorasi pendidikan utamanya mutu guru.
Membangun jembatan dan infrastruktur memang sulit tapi lebih sulit lagi membagun kualitas guru. Sebab sejak Indonesia Merdeka SDM Maluku tertinggal kualitasnya lebih khusus kualitas gurunya, alternatif lain kecuali mereka belajar di luar Maluku.
Program peningkatan mutu guru sejak dicetuskan NS,IN hingga IK pada kurikulum 13 yang didampingi LPMP juga tidak banyak yang berotasi cepat hingga semua guru bisa masuk dalam diklat profesi. Apalagi para guru pelatih belum cukup banyak tersedia.
Kami apresiasi langkah pemda bangun infrastruktur tapi jika sudah selesau dibangun, SDM siapa lagi yang akan mengisinya? Apa impor SDM lagi?. Ada baiknya bangun kualitas SDM Maluku dibangun bersamaan dengan bangun infrastruktur.
Harusnya pemimpin daerah atau stakeholder (pengampu kebijakan) memanfaatkan momen hadirnya IGI ini, karena di sinilah kompetensi Guru dirawat setelah mereka dilahirkan dari dapur FKIP dan fak. Tarbiyah atau sekolah tinggi keguruan.
Guru Penggerak IGI Maluku lebih banyak diundang untuk mengajar di provinsi lain ketimbang provinsi dan kabupaten sendiri. Karena 'mereka' selalu beranggapan kalo pembicara nasional dari ibukota itu 'keren' dan berkelas. Padahal sebagian mereka juga tampil hanya 'tekan-tekan enter' dan disuruh nonton slide?.
Kanal pelatihan Maluku Belajar yang di kawal pak Yandri, di Maluku Tenggara secara daring, digagas IGI, malah jadi ajang belajar ratusan kawan-kawan guru dari provinsi dan kabupaten lain. Sekarang ada pertanyaan IGI Maluku sudah buat apa ke pemprov Maluku hingga berani bicara.
Kami sudah lahirkan karya aplikasi penilaian yang bisa dinikmati para guru se Maluku bahkan se Indonesia tanpa harus Bayar alias gratis dan terjebak dalam e-raport di tingkat sekolah Dasar.
Kami sudah lahirkan guru-guru pelatih hebat yang siap menghadang para generasi alpha dengan berbagai pendekatan pembelajaran digital dan pendidikan karakter.
Kami yakin, suatu perubahan baru sulit diterima dan mengajak orang berubah itu sulit, tapi paling tidak jangan anda berdiri di tengah jalan menghambat gerak kami IGI.
Kepentingan IGI hanya dua, Guru Bermutu, Siswa lebih berprestasi.
Ambon, 4 Maret 2020
IGI Maluku.
0 Komentar