Sumpah Pemuda di Langit Maluku Barat Daya



8.30, ketika peaawat ATR.42.500 milik maskapai Trigana Air mengangkasa, baru tersadar kalo hari ini tepat peringatan sumpah pemuda. Semangat menulispun muncul lagi, maklum, jarang-jarang bisa menulis di angkasa, selain jarang terjadi, kesempatan fokus konsentrasi karena tidak banyak yang mengganggu.

Tugas kali ini kembali menyambangi kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), kota Tiakur. Negeri Kalwedo yang menyimpan sejuta rahasia alam, gunung Kerbau, Pantai Yama dengan keindahan pasir putihnya, semua kekayaan alam ini ada di Kabupaten kepulauan yang lebih dekat dengan Australia ini.

Sebagaimana kunjungan-kunjungan terdahulu, kali ini juga akan sharing pengalaman dan mengajar kepada para mahasiswa Program PSDKU (Program Studi di luar Kampus Utama) sebuah program kuliah Jarak Jauh Universitas Pattimura Ambon, persiapan pendirian Universitas Kalwedo Maluku Barat Daya (MBD) tepatnya di pulau Moa, kota Tiakur. tepatnya di kampus persiapan Universitas Kalwedo Tiakur.

Waktu tempuh Ambon-Moa biasanya 1 jam dan 15 menit dengan TriganaAir, dengan ongkos tiket 1.7jt hampir sama dengan ongkos Ambon Surabaya sepertinya, maka sungguh Maluku yang luas hingga memacu pemdanya sesegera mungkin mempercepat pengembangan kompetensi SDM lokal karena sangat diperlukan.

Materi sharing program studi kali ini yang ditugaskan kantor ke saya adalah memberi kuliah media belajar dan pembelajaran, semoga media alternatif pembelajaran yang ditawarkan ke mereka nanti bisa di implementasikan sesuai analisis kebutuhan di masa yang akan datang di tengah peluang dan tantangan juga letak geografis yang ada.

Pengalaman kedatangan sebelumnya di tempat ini juga beberapa waktu lalu bagaimana ketika ditugaskan kantor memberikan kuliah Komputer dan Media Pembelajaran tetapi komputer tidak ada, dan belum didukung aliran listrik, tetapi dengan berbagai cara harus bisa tetap berkuliah dengan lancar memanfaatkan android tanpa sinyal tanpa listrik dan bahkan aksi ini lebih menarik lagi.

Percepatan teknologi dan arus informasi yang super cepat ruoanya tidak banyak membawa perubahan dan dampak berarti bagi masyarakat MBD, terutama di Tiakur, termasuk pada mahasiswa PSDKU sebab minimnya sarana akses internet menghambat agak menghambat perkuliahan yang berjalan.

Akses internet satelit yang tersediapun hanya ada di beberapa sekolah dan jawatan, itupun tentu bukan akses yang unlimited sehingga tidak maksimal, tentu berharap ada pengembangan untuk perbaikan ke depan sehingga masyarakat termasuk aktivitas akademik mahasiswa dan dosen bisa tercover dengan maksimal.

Sehingga hak masyarakat utamanya mahasiswa untuk mengakses informasi publik di media mainstream secara daring dan media sosial bisa terpenuhi. Tentu hal positif lainnya adalah menjembatani investasi dan geliat ekonomi di daerah kabupaten yang baru di mekarkan 5 tahun ini.

Berharap juga ada dukungan pemda lewat pihak terkait untuk mendorong upaya perluasan jaringan dan akses informasi kepada masyarakat, tentu ini demi pengembangan daerah ke depan yang lebih baik utamanya akses pelayanan publik bagi masyarakat luas.

Peringatan hari Sumpah pemuda 2019 yang diperingati hari ini bagi saya adalah titik cek point berikutnya untuk mengupgrade pengetahuan baru, ketika ditugaskan ke perbatasan MBD kepada para calon pendidik dan juga bagi saya pribadi bahwa, sharing and growing together sebagai motto pergerkan komunitas mampu diterapkan dengan haraoan bisa berbagi di mana saja, apa saja, kapan saja dan ke siapa saja.

Dan detik-detik Sumpah Pemuda di angkasa ini pun bagi saya menjadi jembatan bagi diri pribadi, memahami dan mengerti berbagai situasi di luar sana yang tidak biasa, menjadi pemacu dan pemicu untuk berbenah diri dan tidak harus menunggu waktu.

Sebab di atas ketinggian angkasa ketika melangit, kapan pun bisa saja terhempas, dan kita tidak bisa memprediksi kapan dan di mana pun bisa jatuh, dan tidak ada jaminan kita bisa menghirup udara segar besok pagi, maka pelajaran bagi saya, untuk merubah sesuatu tidak harus menunggu, dan bisa dimulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri dan dimulai sejak saat ini.

Yang pasti dengan mengangkasanya pesawat ini, diri lebih paham bahwa masih ada langit di atas langit, dan dengan sering berkunjung dan menemukan kebudayaan baru, makin menyadarkan keragaman nusantara tercinta dan makin banyak pula mengenal bahasa dan budaya Indonesia.

Maka makin yakinlah akan makna sumpah pemuda itu bahwa sebenarnya,
Kita masih satu tanah air,
Satu Bangsa dan satu Bahasa dalam cengkraman garuda berlabel Bihneka Tunggal iku.

Langit MBD, Pulau Moa, 28 Oktober 2019.

0 Komentar