
Innalilalhi Wainnailayhirojiun, Indonesia kembali berduka, putra terbaiknya, presiden RI Ke-3 Indonesia, ilmuwan sekaligus penemu ilmu-ilmu kedirgantaraan khusus Pesawat Terbang, kembali ke Haribaan Ibu Pertiwi. Sangat besar jasa dan perjuangan yang pernah beliau torehkan ke negara tericinta, menjadi sumbangsih bagi dunia, dan warisan keilmuan yang tidak lekang oleh waktu.
Penemuan-penemuan dalam ilmu pesawat terbang menjadikan perusahaan pesawat terbang sekaliber Boeing harus menyetor hak paten kepada pak Habibi dan Keluarganya atas kontribusi temuannya tentang teori Habibie yakni menemukan keretakan pada badan pesawat (crack progretion) sehingga dijuluki Mr.Crack, kestabilan pesawat di angkasa, dan penghematan bahan bakar pesawat, bayangkan jika ilmu ini tidak ditemukan oleh ilmuwan secerdas Habibi.
Dalam Dunia Pendidikan dan Pembelajaran ide besar beliau tentang Paperless School tetang sekolah di masa depan yang tidak lagi mengandalkan kertas adalah ide yang spektakuler dan saat ini banyak siswa dan guru menerapkannya, ide ini mucul 4 tahun lalu (2014) ketika berpidato pada forum guru nasional, dan tidak banyak yang mempraktikkannya.

Sekolah Tanpa Kertas - IGI Maluku dan Microsoft Indonesia
Baru di tahun 2014, ketika dibentuk Ikatan Guru Indonesia (IGI) Maluku dibawah kepemimpinan Ode Abdurrachman, kemudian mempopulerkan paperless school ini dengan branding 'sekolah tanpa kertas' dan memasukannya dalam program utama IGI Maluku dengan gerakan branding 'sekolah tanpa kertas' dan berkolborasi dengan berbagai mitra dan CSR, salah satunya dengan perusahan pengembang software yang gencar mengedukasi penggunanya menggunakan software asli atau bukan bajakan, yakni microsoft Indonesia. IGI Maluku kemudian membuat program kampanye dan pelatihan kelas Digital dan Sekolah Tanpa Kertas, berlanjut kemudian mencetus berbagai kegiatan pelatihan dan pengembangan paperless school di wilayah timur Indonesia Maluku khsusu guru dan siswa.
Selanjutnya IGI Maluku mengajak SEAMOLEC-SEAMEO, Organisasi Kementrian Pendidkan se Asia Tenggara, untuk datang ke Maluku dan tidak tanggung-tanggung saat itu menurunkan Direktur Pelatihannya langsung pada pelatihan Kelas Maya. Seamolec dan IGI hadir melatih guru dan siswa di 2 kota yakni Ambon dan Masohi, meski saat itu belum banyak yang merespon inovasi dan geliat ini dikarenakan kehadiran IGI Maluku dan IGI Kabupaten kota, dikarenakan berbagai kendala teknis di antaranya jaringan internet tidak sestabil saat ini. belum banyak dikenal seperti saat ini, namun kon

Penyerahan Cinderamata oleh Direktur Pelatihan Seamolec kepada IGI Maluku
Gerakan Sekolah tanpa kertas ini kemudian berkembang hingga saat ini dengan pengembangan yang berbeda-beda namun tetap dalam visi besar Indonesia yang harus bebas dari ketergantungan terhadap kertas di sekolah. jika bubur kertas (pulp) adalah produk akhir pengolahan kayu untuk menghasilkan kertas, maka hutan di Indonesia sebagai jantung dan paru-paru dunia cepat atau lambat akan habis terpakai dengan tanpa solusi alteratif.
Penggunaan kertas pada lembaga pendidkan dalam hal ini sekolah termasuk instansi pemerintah maupun swasta, menjadi sumbangsih meminimalisir penggunaan kertas yang dihasilkan dari pohon kayu, meski sebagian pulp berasal luar Indonesia alias impor, ketergantungan terhadap hutan kayu akan produksi kertas harus dikurangi bahkan ditiadakan.
Solusinya adalah peperlessschool, setidaknya mengurangi ketergantungan penggunaan kertas pada aktivitas belajar, ujian dan administrasi perkantoran. Hadirnya penggunaan ujian berbasis komputer, ujian berbasis android, pemanfaatan dokumen elektronik, dan aktivitas perkantoran yang serba digital, pembelajaran kelas digital dan semacamnya adalah alternatif atau jalan lain bagaimana menghilangkan peran kertas secara dominan dalam lingkungan sekolah. Demikian juga penggunaan buku elektronik, kertas elektronik, bahan ajar serta tugas-tugas belajar digital yang dikemas dalam digital Class adalah solusi terbaik untuk menghilangkan ketergantungan pada penyediaan bahan kertas dalam pendidkan.
Kini banyak sudah yang merasakan geliat paperless school di lembanga pendidkan bahkan perkantoran, meski ide ini bukan pertama kali dikampanyekan tokoh sekelas Mr.Crack, secara pribadi bagi saya Prof Habibi yang menghadirkan 'rasa baru' bagi pengembangan sekolah tanpa kertas di masa depan, terlabih lagi bagi pengembangan IGI Maluku yang terus mengkampanyekan berbagai program peningkaan mutu gurunya yakni kelas digital dan sekolah tanpa kertas.
terima kasih pahlawanku, jasamu tiada tara.
0 Komentar