Akhirnya 6 orang IGIers (sebutan guru sejati), termasuk saya harus memutuskan terbang menjemput impian, tujuan tak lain adalah untuk menerima Anugerah Guru Indonesia (AGI) 2019, ajang penghargaan berprestasi guru di bidang teknologi pembelajaran. Alhamdulillah 9 Guru Maluku raih AGI 2019 ditambah karya saya satu-satunya sebagai dosen tembus juga di ajang ini.
Selain even AGI berselang sehari adalah Anugerah Pendidikan Indonesia (API) 2019 yg digelar di tahun ke dua, menghadirkan para tokoh daerah, Gubernur, Bupati, walikota, profesional, politisi, tokoh masyarakat yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah dan berkomitmen berkolaborasi dengan IGI di daerah menaikan kualitas guru.
4 tokoh yg mengkonfirmasi bisa hadir, yakni Bupati Seram Bagian Barat dan Kepala Dinas Pendidikan SBB, Kepala Kantor Bahasa Maluku sebagai tokoh profesional birokrat yg menjadi ujung tombak gerakan literasi, dan salah satu tokoh masyarakat Maluku yg kini menjabat kepala SMK Pertanian Pembangunan Maluku.
Awalnya walikota Ambon yg terjadwal termasuk dalam deretan undangan penerima API 2019 dengan kepala dinas pendidikan Ambon, namun karena terjadwal juga di tempat lain dengan agenda yg tidak bisa ditinggal, akhirnya terpaksa tidak bisa hadir.
Magnet GESS begitu kuat, ajang pertemuan akbar para guru IGI se Indonesia di arena pameran dan konferensi pendidikan terbesar tahun ini bagi saya sebuah momen yg jarang terjadi, selain langka ini bagi saya, momen ini adalah pilihan lain untuk menyegarkan pikiran sejenak dari rutinitas keseharian.
Bolehlah kalo dibilang juga pembuktian jati diri, jika kedengaran terlalu ekstrim mungkin, tapi Entah karena saya terlalu khusyu berorganisasi atau karna panggilan hati. Tapi realitas wajar sebuah panggilan nurani untuk ke pentas nasional IGI, saking semangatnya diri.
Saya tentu tidak sendiri, ada para guru-guru super yg menemani, seiring waktu mereka telah lewati berbagai riak-riak kecemasan hati. Bahwa dulu ad yg menepis bahwa IGI gerbong politik tokoh tertentu terlalu dini, sebab ketika sang tokoh itu pergi dan diperkirakan IGI mati, malah gerakan IGI semakin melesat jauh tak terkendali.
Organisasi sejenis yg mengusung guru di tempat kami juga terkesan seperti mati suri, kadang ada di hari ulang tahunnya, kadang tak tampak batang hidungnya, entah apa kerja oknumnya. Bukan sekali tapi dan bertahun tahun begitu, tapi anggotanya juga tidak berdaya lebih takut atasanya ketimbang Tuhannya.
Alhasil organ guru itu hanya menyisakan cibiran bahwa mereka itu orang dekat penguasa, tak bisa dilawan, dikritik, titah pimpinannya menjadi dogma yg tak terbantah, nyatanya mereka berhasil membungkam ribuan guru di bawahnya, tapi apakah mereka cukup aspiratif? Tinggal tanya aggotanya saja.
Bolehlah sombong dikitlah di depan organ yang sombong. IGI sebagai organ profesi punya asupan nutrisi keilmuwan mempuni, tidak ada bedalah guru-guru di IGI, pimpinan dan bawahan semua saling berbagi keilmuwan dengan berbeda sebutan saja, yakni pelatih dan yg dilatih, mengutamakan adab ketimbang keilmuwan profesi, saling melengkapi, doktoral magister ada di IGI tapi tak pernah tinggi hati, karena diikat dengan moto berbagi, sharing and growing together.
Gerakan IGI seperti mitos setan Tuyul, terlihat di hasil, tak nampak di proses, kenapa bisa terjadi?. Ini zaman teknologi, semua saling mengupdate informasi keilmuwan IGI ditransfer via grup diskusi dan lanjutannya pelatihan mutu tersertifikasi, dibimbing relawan IGI berdedikasi tinggi, para pelatih para guru hebat dalam kanal-kanal pelatihan super tanpa digaji, tentu IGI mandiri.
Ada juga hingga kini yg masih bilang, IGI adalah kepentingan suksesi, atau potensi berpartai di masa depan, dengan jualan teknologi, tapi kami di IGI yang membangunnya dari usia dini tak pernah sakit hati, karna sangat mudah membantah serangan tuduhan itu dengan bukti.
2014 IGI Maluku deklarasi, kini 2019 di usianya lebih 5 tahun. Ibarat manusia masih tergolong bayi belum bisa bersuara jelas, dan terkadang mungkin harus alami panas dingin. Tapi benar itu adalah tanda akan sehat, sebab jika bayi panas dan sering menangis akan datangnya tumbuh gigi baru, IGI juga demikian, semoga tumbuh motivasi dan nutrisi baru bagi guru penggerak di Maluku dan menjadi guru inspirasi di 11 kabupaten kota. Menebar keilmuan dan keadaban, melahirkan generasi yg melanjutkan cita cita bangsa yg beradab.
PakOde
Langit Jakarta 18 september 2019

0 Komentar